Maret 21, 2011

Berhenti merokok

Saya mulai merokok semenjak duduk di bangku SMP. Ketika itu saya mulai berkenalan dengan teman – teman yang hampir semuanya merokok. 


Karena masih SMP dan pikiran labil (galau kalo istilah sekarangnya mah) akhirnya saya juga ikut-ikutan merokok. Awalnya sih ikut-ikutan, eh malah jadi kecanduan hahahaha. Pertama kali menghisap rokok saya langsung terbatuk – batuk. Parahnya, teman2 menertawakan saya dan bilang saya banci, dan lucunya lagi ada yang bilang “kalau ga merokok itu ga jantan, ga macho lah” (akhirnya gw sadar kalo kejantanan ga ada hubungan sama sekali dengan merokok, hah!).  Teman yang lain bilang “ntar kalo udah TERBIASA baru kerasa enaknya” (Yeah dude, "terbiasa" itu kata kuncinya).  


Padahal dalam pikiran saya apa sih enaknya merokok, rasanya pahit, dan bikin gatal di kerongkongan. Selain itu, kalo saya merokok pasti dimarahi sama orang tua (maklum waktu kan itu masih kecil). Pada saat inilah saya mengalami apa yang disebut disonansi kognitif. Saya berasal dari keluarga yang bukan perokok dan sangat anti terhadap rokok, tetapi saya juga harus beradaptasi dan ingin bergaul dengan teman – teman. Akhirnya saya berkata kepada diri sendiri “ah ga apa – apa lah, merokok sebatang dua batang sama teman- teman ini, ga bakalan kecanduan juga”. Ini adalah bentuk pengurangan disonansi dengan memunculkan konsonansi dari pikiran dan keadaan yang tidak nyaman pada diri saya. 


Singkat kata, setelah saya mencoba dan terus mencoba (karena ga mau dibilang banci dan ditertawakan terus), akhirnya saya mulai TERBIASA dan sukses menjadi perokok aktif selama 12 tahun!


Kok lu bisa berhenti merokok sih? emg bisa ya? berhenti merokok kan bikin gemuk?gw ga dapet inspirasi kalo ga merokok euy, wes mangan ora udud eneg. Itulah sederet pertanyaan dan pernyataan dari temen2 saya. Sebenarnya masih banyak alasan lain yang kalo dijumlah mungkin lebih dari 1000 alasan, kenapa perokok sulit menghilangkan KEBIASAANNYA. Tetapi saya bisa katakan kalo alasan-alasan itu hanyalah dalih supaya kita tetap bisa merokok dan tak ada orang yang menyalahkan kebiasaan buruk tersebut. Menurut saya merokok adalah KEBIASAAN, bukan kecanduan. Wake up you fool!

Ketika saya ingin berhenti merokok, hal pertama yang saya lakukan adalah menguatkan NIAT. Setelah saya punya niat yang kuat dan tidak lagi membuat alasan, maka hal selanjutnya yang saya pikirkan adalah orang-orang yang saya sayangi menjadi perokok pasif. Saya tau bahwa hidup bukanlah hak milik pribadi. Ketika ada orang yang menyayangi saya dan ada orang yang saya sayangi, itu artinya hidup sudah bukan milik saya sendiri. Saya membayangkan jika saya terserang penyakit mematikan karena kebiasaan buruk tersebut, bukan hanya saya yang menderita, orang-orang yang menyayangi dan butuh kasih sayang saya juga akan menderita, bahkan mungkin lebih menderita daripada saya sendiri. Belum lagi kalau diantara mereka ada yang sakit juga karena menjadi perokok pasif. Well, atas dasar itulah akhirnya saya memutuskan untuk berhenti merokok, dan hidup lebih sehat. :)



Desember 03, 2010

Kebahagiaan

“The basic thing is that everyone wants happiness, no one wants suffering. And happiness mainly comes from our own attitude, rather than from external factors.”
Dalai Lama XIII
 

Hidup berisi ketidakpastian. Namun ada dua hal didalam dunia ini yang pasti, yaitu waktu yang akan terus bergulir dan ketidakpastian itu sendiri. Setiap detik di dunia ini, ribuan bayi lahir, dilain pihak yang tua meninggalkan kenangannya. Manusia bisa memiliki hidup yang sempurna, pendidikan, kesenangan dan cinta, namun manusia pada belahan sosial berbeda merasakan kemiskinan, kelaparan, kesedihan dan ketakutan akan apa yang akan terjadi esok. Usia manusia tidak pasti, ada yang kalah dalam penyakit, kecelakaan namun ada juga yang berhasil menjalaninya sampai sepuluh dekade lewat. Kesemuanya menimbulkan pertanyaan mendasar, apakah tujuan hidup manusia?

Banyak pemikir percaya bahwa kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia. Kebahagiaan adalah suatu hal yang dipercayai bisa membuat hidup menjadi lebih hidup.

‘Apakah Anda bahagia?’

“Ya, saya bahagia.. Tapi akhir-akhir ini saya sedang mengalami kesulitan keuangan. Tapi kemarin anak saya sakit. Tapi saya belum belajar untuk ujian besok” Apakah Anda bahagia tanpa ‘tapi’? Tidak mungkin seseorang itu bahagia sekaligus tidak bahagia pada suatu waktu tertentu. Sebuah paradoks. Pastilah ia bahagia. Atau ia tidak bahagia.

Setiap orang menginginkan kebahagiaan, tidak ada yang menginginkan penderitaan. Sebuah kebahagiaan yang menetap didalam kehidupan dan keseharian dan bukan sekedar pernyataan sesaat. Kemudian pertanyaan yang tertinggal adalah ‘Mungkinkah kebahagiaan itu nyata?’ Kemudian bagaimana memperolehnya??

Mungkin jawabannya adalah uang.

Beberapa orang menganggap bahwa kebahagiaan sangat berhubungan dengan materi. Semakin banyak harta yang saya miliki, maka semakin bahagia saya. Uang bisa memberikan kesenangan, uang bisa mendatangkan teman, dan yang paling penting adalah uang bisa membeli cinta. Uang adalah kebahagiaan.

Mungkin pernyataan ini ada benarnya, dan mungkin beberapa orang akan setuju jika diberikan pernyataan ini, namun apakah uang pasti bisa menyokong hidup bahagia? Dapatkah uang membeli kebahagiaan? Mantan presiden Amerika Serikat, F.D. Roosevelt mengatakan bahwa kebahagiaan bukanlah melulu materi, melainkan kreatifitas dan pencapaian.

Kebahagiaan itu bukan selalu materi, melainkan ketika tercapainya kepuasan diri akan suatu pencapaian diri sejati melalui kreatifitas. Bahagia dapat dirasakan semua orang dari kegiatannya, apapun itu. Misalnya ketika pianis mengikatkan dirinya pada musik dan memasuki alam tarian pada tuts piano, atau peneliti yang begitu larut dengan rasa ingin tahu mengalahkan detik-detik waktu untuk tetap menyibukkan diri mencari jawaban. Tidak perlu materi yang banyak untuk mencapai kebahagiaan.

Tenzin Gyatso, peraih nobel perdamaian, pemimpin spiritual Buddhis yang lebih dikenal dengan nama Dalai Lama, mengatakan bahwa kebahagiaan lebih merupakan hasil dari sikap (attitude) dibandingkan faktor eksternal. Tidak ada muatan baik atau buruk, senang atau sedih pada kejadian tertentu. Namun sikap manusialah yang memberikan muatan-muatan penilaian itu. Ketika seseorang mempercayai bahwa faktor eksternal adalah penentu kebahagiaannya, maka ia telah melalaikan suatu kenyataan penting dan mendasar bahwa diri sendirilah yang sebenarnya bertanggung jawab atas semua pemikiran, perasaan dan tindakan yang dilakukan, bukan orang lain ataupun hal lain.

Berbicara mengenai orang lain, beberapa orang pun berpikir bahwa kebahagiaan itu datang ketika memiliki pasangan. Jadi jika Anda tidak memiliki pasangan, entah itu pacar maupun suami/istri, maka Anda tidak akan bisa mencapai kebahagiaan. Pendapat ini sangat berbahaya, karena jika seseorang terbiasa menganggap bahwa orang lain menyebabkan kebahagiaan pada hidupnya, maka ia juga akan cenderung menyalahkan orang lain ketika terjadi hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Jika demikian, lagi-lagi kita melupakan tanggung jawab diri yang dimiliki untuk menentukan arah hidup kita. Dan bahwa setiap manusia memiliki pilihan untuk menjadi bahagia ataupun sebaliknya.


November 22, 2010

Aktualisasi Diri

Salah satu kebutuhan dasar manusia untuk tetap hidup normal adalah aktualisasi diri.  Manusia perlu mencari lingkungan (atau kalau perlu menciptakannya sendiri) di mana ia bisa benar-benar menghayati keberadaannya.  Setiap orang ingin merasakan nikmatnya menjadi orang yang berarti bagi sekitarnya.  Tidak ada orang yang mau diabaikan. 

Semasa SD dulu, aktualisasi diri adalah topik yang terabaikan dari pendidikan.  Tugas guru adalah mendiktekan pelajaran, sementara murid mencatatnya.  Kemudian guru akan memberi tugas dan PR, dan kita wajib mengerjakannya, tentu saja.  Interaksi antara guru dan murid sebatas mendikte dan mencatat saja.

Ada masa-masanya ketika saya merasa saya tidak pernah benar-benar ada di kelas.  Untungnya, saya ini keras kepala dan bandel.  Kalau guru memang berniat mengabaikan keberadaan saya di kelas, maka ada saja ide untuk membuat ulah, sehingga menarik perhatian para guru, bahkan kepala sekolah  Tapi saya merasa tidak benar-benar ada.  Guru nyaris tidak pernah menanyakan pendapat saya dalam hal apa pun.  Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada murid hanyalah semacam tes untuk menguji kualitas hapalan.  Tapi tidak ada yang menanyakan pendapat murid.  Mengapa?  Karena murid memang dianggap tidak penting.

Orang-orang yang tidak menghayati keberadaan dirinya selalu memiliki harga diri yang rendah.  Mereka selalu mengambil tempat duduk di belakang.  Jantungnya berdegup kencang ketika guru memanggil namanya.  Ia tidak akan mengacungkan tangan dan maju ke depan untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh guru.  Ia tidak akan pernah maju, karena kakinya hanya mengenal gerakan mundur.  Ia bisa, tapi tidak mampu.  Ia tidak akan pernah mencicipi manisnya kemenangan, karena ia tidak pernah bersaing.

Seorang selebriti, wanita cantik yang masih muda dan seksi yang telah dikenal namanya oleh nyaris seluruh penduduk dunia datang ke sebuah kota untuk mengadakan konser.  Promotor konser, seperti biasa, harus siap dengan segala permintaan para artis, mulai dari yang wajar sampai yang edan.  Selebriti itu minta 3 kamar hotel berbintang lima di-booking untuknya (padahal badannya hanya butuh satu tempat tidur), seluruh dindingnya ditempel dengan kertas dinding berwarna kesukaannya, sebotol champagne mewah yang harganya ratusan ribu rupiah per botol siap menunggu di kamar, empat macam bunga yang ditebar di lantai kamar, dijemput dengan limosin, dan karpet merah menunggu di lobi hotel.  Dua kamar yang tidak digunakannya jelas mubazir, kertas dindingnya mengganggu pandangan, champagne pilihannya tidak pernah disentuh, bunga-bunga di lantai kamar tidak pernah ada manfaatnya, limosin yang digunakan tidak membuatnya terkesan, dan karpet merah itu cuma sepanjang empat puluh langkah saja.

Ia masih muda dan cantik, penghasilannya cukup untuk tujuh turunan, dan apa yang dilakukannya selalu jadi sorotan.  Mengapa ia masih meminta yang tidak-tidak?  Mengapa ia masih saja selalu meminta perhatian orang lain?  Mengapa ia tidak ubahnya seperti anak bayi yang menangis hanya untuk memanggil ibunya?

Jauh dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia tidak pernah berguna bagi orang lain.  Apa yang dilakukannya hanyalah bernyanyi dan melenggak-lenggokkan tubuh seksinya.  Penonton terhibur menonton video klip sepanjang empat menit, lalu apa?  Orang-orang mendengar seluruh isi albumnya selama sejam, lalu apa?  Jutaan lelaki berfantasi kotor dengannya, lalu apa?  Sejujurnya, tidak ada hal besar yang pernah ia lakukan untuk orang lain.  Semuanya tidak berarti, bahkan bagi dirinya sendiri.  Orang-orang kagum melihatnya, tapi ia sendiri muak dengan cermin.

Hati kecil tidak berbohong.  Seorang tukang cukur yang bahagia lebih beruntung daripada selebriti dunia yang ingin bunuh diri.  Tukang cukur merasa benar-benar 'ada'.  Tanpa mereka, bumi akan dipenuhi oleh orang-orang dengan rambut berantakan.  Apa jadinya dunia tanpa seorang penyanyi seksi?  Tidak masalah.  Toh masih banyak yang lainnya yang sama seksinya.  Mereka bergelimang harta, tapi tidak pernah benar-benar berarti bagi dunia.  Ketika kecantikannya mulai meluntur, orang-orang pun ramai-ramai meninggalkannya.  Kamera malas meliputnya, dan namanya pun mulai dilupakan.

Kamera dan surat kabar memang tidak pernah (atau jarang sekali) memuat kisah seorang tukang cukur.  So what?  Faktanya tetap : semua orang membutuhkan tukang cukur.  Mungkin inilah sebabnya banyak artis bunuh diri, sementara jarang sekali tukang cukur yang melakukan kebodohan yang sama.  Tukang cukur lebih unggul dalam hal aktualisasi diri.  Mereka benar-benar ada, dan benar-benar dibutuhkan.
Apakah Anda dibutuhkan?

The Shawshank Redemption (1994)


Semuanya bermula ketika seorang bankir bernamaAndy Dufresne (Tim Robbins) dihukum karena menembak mati pria yang menjadi selingkuhan istrinya. Dalam masa hukumannya di penjara Shawshank, ia bertemu dengan tahanan lain Ellis Boyd Redding (Morgan Freeman) dan mereka pun berteman. 

Karena kepandaiannya dalam mengurus surat-surat berharga dan pengalamannya sebagai bankir, banyak orang memanfaatkan Andy untuk melakukan pekerjaan kotor seperti pencucian uang, dan penggelapan ijazah dan surat berharga lainnya, termasuk kepala sipir, Warden Norton (Bob Gunton), yang memaksanya untuk terlibat dalam berbagai kegiatan korupsi. Namun di balik semua itu ternyata Andy telah menyiapkan sebuah rencana besar untuk kabur dari penjara Shawshank. Sebuah pelarian yang terencana dan mengagumkan.

Bersetting tahun 1940-an, The Shawshank Redemption adalah salah satu film terbaik dimasanya dan beberapa kritikus menilainya sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat hingga kini. Pada awalnya film ini begitu flop di pasaran, namun ketika rilis dalam bentuk DVD, ia mulai dicari oleh para pecinta film. Film ini juga merupakan peringkat teratas 250 film terbaik sepanjang masa versi IMDB.com.

 "Get busy living, or get busy dying" (Andy Dufresne)

Pemain : Tim Robins, Morgan Freeman, Bob Gunton
Sutradara : Frank Darabont
Genre : Drama
Rating : 


Forrest Gump (1994)

"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."

Sebuah quote di awal film ini yang membuat saya merenung dan berpikir tentang hidup. Bahwa ternyata hidup ini adalah sesuatu yang menyenangkan jika kita selalu menikmati setiap waktu dan momen yang dilewati.

Film ini dibintangi oleh Tom Hanks dan disutradai oleh Robert Zemeckis. Diangkat dari novel yang berjudul sama karya Winston Groom, sukses besar setelah diangkat ke sebuah layar lebar. Forrest Gump, film di tahun 1994, berhasil menggondol enam penghargaan dari Academy Award.

Film ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang pemuda bernama Forrest Gump (Tom Hanks) yang dibesarkan oleh ibunya dengan penuh perjuangan. Sempat ditolak masuk ke sekolah normal karena ia memiliki IQ di bawah rata - rata, namun akhirnya Forrest Gump berhasil menamatkan kuliahnya sampai ke jenjang universitas. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Forrest Gump kemudian menjalani pengalaman hidup yang bermacam - macam. Mulai dari menjadi tentara, hingga menjadi nelayan.

Secara keseluruhan, film ini mempunyai plot yang menarik. Sejak awal film, kita dibawa mengikuti kisah hidup Forrest Gump dari kecil hingga dewasa. Jika mau berpikir sedikit, kita akan menemukan filosofi - filosofi yang sangat menyentuh dalam kehidupan Forrst Gump. In my humble opinion, film ini mengajarkan agar kita jangan mengeluh terhadap apapun kesulitan yang terjadi dalam hidup (CMIIW). Jika hidup selalu dijalani dengan cara yang positif, maka hasilnya juga akan positif.

Pemain : Tom Hanks, Robin Wright, Gary Sinise, Sally Field
Sutradara : Robert Zemeckis
Genre : Drama
Rating :