Tampilkan postingan dengan label Komunikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikologi. Tampilkan semua postingan

Desember 03, 2010

Kebahagiaan

“The basic thing is that everyone wants happiness, no one wants suffering. And happiness mainly comes from our own attitude, rather than from external factors.”
Dalai Lama XIII
 

Hidup berisi ketidakpastian. Namun ada dua hal didalam dunia ini yang pasti, yaitu waktu yang akan terus bergulir dan ketidakpastian itu sendiri. Setiap detik di dunia ini, ribuan bayi lahir, dilain pihak yang tua meninggalkan kenangannya. Manusia bisa memiliki hidup yang sempurna, pendidikan, kesenangan dan cinta, namun manusia pada belahan sosial berbeda merasakan kemiskinan, kelaparan, kesedihan dan ketakutan akan apa yang akan terjadi esok. Usia manusia tidak pasti, ada yang kalah dalam penyakit, kecelakaan namun ada juga yang berhasil menjalaninya sampai sepuluh dekade lewat. Kesemuanya menimbulkan pertanyaan mendasar, apakah tujuan hidup manusia?

Banyak pemikir percaya bahwa kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia. Kebahagiaan adalah suatu hal yang dipercayai bisa membuat hidup menjadi lebih hidup.

‘Apakah Anda bahagia?’

“Ya, saya bahagia.. Tapi akhir-akhir ini saya sedang mengalami kesulitan keuangan. Tapi kemarin anak saya sakit. Tapi saya belum belajar untuk ujian besok” Apakah Anda bahagia tanpa ‘tapi’? Tidak mungkin seseorang itu bahagia sekaligus tidak bahagia pada suatu waktu tertentu. Sebuah paradoks. Pastilah ia bahagia. Atau ia tidak bahagia.

Setiap orang menginginkan kebahagiaan, tidak ada yang menginginkan penderitaan. Sebuah kebahagiaan yang menetap didalam kehidupan dan keseharian dan bukan sekedar pernyataan sesaat. Kemudian pertanyaan yang tertinggal adalah ‘Mungkinkah kebahagiaan itu nyata?’ Kemudian bagaimana memperolehnya??

Mungkin jawabannya adalah uang.

Beberapa orang menganggap bahwa kebahagiaan sangat berhubungan dengan materi. Semakin banyak harta yang saya miliki, maka semakin bahagia saya. Uang bisa memberikan kesenangan, uang bisa mendatangkan teman, dan yang paling penting adalah uang bisa membeli cinta. Uang adalah kebahagiaan.

Mungkin pernyataan ini ada benarnya, dan mungkin beberapa orang akan setuju jika diberikan pernyataan ini, namun apakah uang pasti bisa menyokong hidup bahagia? Dapatkah uang membeli kebahagiaan? Mantan presiden Amerika Serikat, F.D. Roosevelt mengatakan bahwa kebahagiaan bukanlah melulu materi, melainkan kreatifitas dan pencapaian.

Kebahagiaan itu bukan selalu materi, melainkan ketika tercapainya kepuasan diri akan suatu pencapaian diri sejati melalui kreatifitas. Bahagia dapat dirasakan semua orang dari kegiatannya, apapun itu. Misalnya ketika pianis mengikatkan dirinya pada musik dan memasuki alam tarian pada tuts piano, atau peneliti yang begitu larut dengan rasa ingin tahu mengalahkan detik-detik waktu untuk tetap menyibukkan diri mencari jawaban. Tidak perlu materi yang banyak untuk mencapai kebahagiaan.

Tenzin Gyatso, peraih nobel perdamaian, pemimpin spiritual Buddhis yang lebih dikenal dengan nama Dalai Lama, mengatakan bahwa kebahagiaan lebih merupakan hasil dari sikap (attitude) dibandingkan faktor eksternal. Tidak ada muatan baik atau buruk, senang atau sedih pada kejadian tertentu. Namun sikap manusialah yang memberikan muatan-muatan penilaian itu. Ketika seseorang mempercayai bahwa faktor eksternal adalah penentu kebahagiaannya, maka ia telah melalaikan suatu kenyataan penting dan mendasar bahwa diri sendirilah yang sebenarnya bertanggung jawab atas semua pemikiran, perasaan dan tindakan yang dilakukan, bukan orang lain ataupun hal lain.

Berbicara mengenai orang lain, beberapa orang pun berpikir bahwa kebahagiaan itu datang ketika memiliki pasangan. Jadi jika Anda tidak memiliki pasangan, entah itu pacar maupun suami/istri, maka Anda tidak akan bisa mencapai kebahagiaan. Pendapat ini sangat berbahaya, karena jika seseorang terbiasa menganggap bahwa orang lain menyebabkan kebahagiaan pada hidupnya, maka ia juga akan cenderung menyalahkan orang lain ketika terjadi hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Jika demikian, lagi-lagi kita melupakan tanggung jawab diri yang dimiliki untuk menentukan arah hidup kita. Dan bahwa setiap manusia memiliki pilihan untuk menjadi bahagia ataupun sebaliknya.


November 22, 2010

Aktualisasi Diri

Salah satu kebutuhan dasar manusia untuk tetap hidup normal adalah aktualisasi diri.  Manusia perlu mencari lingkungan (atau kalau perlu menciptakannya sendiri) di mana ia bisa benar-benar menghayati keberadaannya.  Setiap orang ingin merasakan nikmatnya menjadi orang yang berarti bagi sekitarnya.  Tidak ada orang yang mau diabaikan. 

Semasa SD dulu, aktualisasi diri adalah topik yang terabaikan dari pendidikan.  Tugas guru adalah mendiktekan pelajaran, sementara murid mencatatnya.  Kemudian guru akan memberi tugas dan PR, dan kita wajib mengerjakannya, tentu saja.  Interaksi antara guru dan murid sebatas mendikte dan mencatat saja.

Ada masa-masanya ketika saya merasa saya tidak pernah benar-benar ada di kelas.  Untungnya, saya ini keras kepala dan bandel.  Kalau guru memang berniat mengabaikan keberadaan saya di kelas, maka ada saja ide untuk membuat ulah, sehingga menarik perhatian para guru, bahkan kepala sekolah  Tapi saya merasa tidak benar-benar ada.  Guru nyaris tidak pernah menanyakan pendapat saya dalam hal apa pun.  Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada murid hanyalah semacam tes untuk menguji kualitas hapalan.  Tapi tidak ada yang menanyakan pendapat murid.  Mengapa?  Karena murid memang dianggap tidak penting.

Orang-orang yang tidak menghayati keberadaan dirinya selalu memiliki harga diri yang rendah.  Mereka selalu mengambil tempat duduk di belakang.  Jantungnya berdegup kencang ketika guru memanggil namanya.  Ia tidak akan mengacungkan tangan dan maju ke depan untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh guru.  Ia tidak akan pernah maju, karena kakinya hanya mengenal gerakan mundur.  Ia bisa, tapi tidak mampu.  Ia tidak akan pernah mencicipi manisnya kemenangan, karena ia tidak pernah bersaing.

Seorang selebriti, wanita cantik yang masih muda dan seksi yang telah dikenal namanya oleh nyaris seluruh penduduk dunia datang ke sebuah kota untuk mengadakan konser.  Promotor konser, seperti biasa, harus siap dengan segala permintaan para artis, mulai dari yang wajar sampai yang edan.  Selebriti itu minta 3 kamar hotel berbintang lima di-booking untuknya (padahal badannya hanya butuh satu tempat tidur), seluruh dindingnya ditempel dengan kertas dinding berwarna kesukaannya, sebotol champagne mewah yang harganya ratusan ribu rupiah per botol siap menunggu di kamar, empat macam bunga yang ditebar di lantai kamar, dijemput dengan limosin, dan karpet merah menunggu di lobi hotel.  Dua kamar yang tidak digunakannya jelas mubazir, kertas dindingnya mengganggu pandangan, champagne pilihannya tidak pernah disentuh, bunga-bunga di lantai kamar tidak pernah ada manfaatnya, limosin yang digunakan tidak membuatnya terkesan, dan karpet merah itu cuma sepanjang empat puluh langkah saja.

Ia masih muda dan cantik, penghasilannya cukup untuk tujuh turunan, dan apa yang dilakukannya selalu jadi sorotan.  Mengapa ia masih meminta yang tidak-tidak?  Mengapa ia masih saja selalu meminta perhatian orang lain?  Mengapa ia tidak ubahnya seperti anak bayi yang menangis hanya untuk memanggil ibunya?

Jauh dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia tidak pernah berguna bagi orang lain.  Apa yang dilakukannya hanyalah bernyanyi dan melenggak-lenggokkan tubuh seksinya.  Penonton terhibur menonton video klip sepanjang empat menit, lalu apa?  Orang-orang mendengar seluruh isi albumnya selama sejam, lalu apa?  Jutaan lelaki berfantasi kotor dengannya, lalu apa?  Sejujurnya, tidak ada hal besar yang pernah ia lakukan untuk orang lain.  Semuanya tidak berarti, bahkan bagi dirinya sendiri.  Orang-orang kagum melihatnya, tapi ia sendiri muak dengan cermin.

Hati kecil tidak berbohong.  Seorang tukang cukur yang bahagia lebih beruntung daripada selebriti dunia yang ingin bunuh diri.  Tukang cukur merasa benar-benar 'ada'.  Tanpa mereka, bumi akan dipenuhi oleh orang-orang dengan rambut berantakan.  Apa jadinya dunia tanpa seorang penyanyi seksi?  Tidak masalah.  Toh masih banyak yang lainnya yang sama seksinya.  Mereka bergelimang harta, tapi tidak pernah benar-benar berarti bagi dunia.  Ketika kecantikannya mulai meluntur, orang-orang pun ramai-ramai meninggalkannya.  Kamera malas meliputnya, dan namanya pun mulai dilupakan.

Kamera dan surat kabar memang tidak pernah (atau jarang sekali) memuat kisah seorang tukang cukur.  So what?  Faktanya tetap : semua orang membutuhkan tukang cukur.  Mungkin inilah sebabnya banyak artis bunuh diri, sementara jarang sekali tukang cukur yang melakukan kebodohan yang sama.  Tukang cukur lebih unggul dalam hal aktualisasi diri.  Mereka benar-benar ada, dan benar-benar dibutuhkan.
Apakah Anda dibutuhkan?

November 21, 2010

Logika

"Pikir dong pake logika!' Setiap hari kita mendengar kata Logika, ataupun berpikir secara logis. Sekarang saya mencoba menulis tentang logika yang sebenarnya merupakan tugas dan catatan dari mata kuliah filsafat saya.
Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat.Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. Logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran. Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis).

Kegunaan logika
  1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
  3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
  5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan serta kesesatan.
  6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
  7. Terhindar dari klenik
  8. Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.

Oktober 27, 2010

Dampak negatif tayangan di televisi

Televisi sebagai salah satu jenis media massa elektronik adalah media yang potensial sekali tidak saja untuk menyampaikan informasi tetapi juga membentuk perilaku seseorang, baik ke arah positif maupun negatif, disengaja ataupun tidak.Seperti kita ketahui bersama, media massa khususnya televisi berperan besar dalam pembentukan ‘budaya global’ dan proses peniruan gaya hidup. Dengan kekuatan yang luar biasa, media televisi mampu menentukan apa yang akan menjadi trend di masyarakat melalui program – program acara mereka seperti kuis, infotainment (gossip), dan sinetron. Begitu kuatnya pengaruh tayangan program dan iklan televisi terhadap pembentukan pola hidup dan menjadi kebutuhan masyarakat ini kemudian menimbulkan stigma-stigma bahkan nilai baru yang dianut di masyarakat umum. Kehidupan sinetron seperti menjadi ukuran dan realitas yang harus dikuti masyarakat dalam kehidupan nyata mereka sendiri. Hedonisme dan materialisme seakan – akan sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan masyarakat kita.
Selain itu pengaruh tayangan kekerasan di televisi juga memiliki dampak negatif terhadap perkembangan anak – anak. Berita tentang tawuran dan pembunuhan hamper setiap hari menghiasi program berita. Program acara seperti WWF dan aksi - aksi kekerasan lainnya menjadi semacam ‘inspirasi’ bagi anak – anak dalam bertingkah laku sehari – hari. Secara psikologis memang pembelajaran visual melalui proses modeling lebih mudah diterima daripada proses belajar verbal atau tulis dalam pendidikan formal.
Pemberitaan yang terlalu gamblang terhadap kejadian pembunuhan dam kerusuhan juga berpotensi memicu kekerasan dan keberingasan massa. Kita tentu masih ingat beberapa waktu lalu, ketika terjadi kerusuhan di Tanjung Priok, yang dipicu tawuran massal antara massa dengan petugas satuan polisi pamong praja (Satpol PP), yang saling bentrok saat makam Mbah Priuk hendak digusur untuk ketertiban area pelabuhan. Dua stasiun televisi berita secara dramatis menayangkan seorang manusia diinjak-injak oleh gerombolan manusia lain sambil dihantam pentungan atau benda keras, tanpa ada yang sanggup mencegahnya.
Ini terjadi terus menerus dan setiap hari di televisi kita, di depan mata kita. Karenanya jangan heran makin banyak  pemberitaan ibu membunuh anaknya sendiri, anak - anak bunuh diri karena tidak lulus ujian, persis yang terjadi dan di beritakan oleh televisi. Padahal di negara yang sangat liberal sekalipun, tayangan televisi begitu diatur. Televisi tidak boleh meracuni otak anak-anak. Televisi boleh menyiarkan orang mati bunuh diri, tapi jangan diberitahukan bagaimana caranya bunuh diri. ‘Pelajaran’ ini akan menginspirasi penonton untuk melakukan cara yang sama jika menganggap bunuh diri adalah jalan keluarnya.
Dampak negatif lainnya, media dapat dimanfaatkan sebagai alat penebar budaya pergaulan bebas. Saat ini, media kerap kali memanfaatkan film-film bermuatan pornografi dan pornoaksi untuk menyerang kehormatan dan kesucian perempuan. Kasus – kasus pornografi yang diulang – ulang dan disiarkan terus menerus juga dapat menimbulkan efek penasaran terhadap masyarakat, yang akhirnya malah mencari dan menonton video tersebut.  Jika ini terjadi dalam jangka waktu yang lama tentu saja mengubah norma dan nilai-nilai budaya dan identitas nasional suatu bangsa.
Oleh sebab itu, media massa di Indonesia khususnya televisi seharusnya memiliki tanggung jawab sosial kepada pemirsanya dan tidak hanya mengeruk keuntungan demi menaikkan rating dan kepentingan pribadi. Lebih baik lagi kalau negara ini punya cara untuk mengatur secara tegas seperti di negara-negara maju, demi kepentingan masa depan bangsa ini.